Wednesday, October 30, 2013

Tolonglah...dengarkan apa yang tidak kuucapkan...

Jangan terkecoh olehku. Jangan terkecoh oleh topeng yang kupakai. Karena aku memakai topeng, aku memakai seribu topeng, topeng yang takut kulepaskan, yang tidak satupun adalah diriku. Pura-pura adalah seni yang jadi sifat kedua bagiku, tetapi jangan terkecoh deh.
...Aku memberikan kesan bahwa aku terntram, bahwa semuanya beres, baik dalam batin maupun lingkunganku; bahwa kepercayaan diri adalah ciri-ciriku dan sikap tenang adalah kebiasaanku; bahwa perairannya tenang dan bahwa akulah yang memegang kendali dan aku tidak butuh siapapun. Tetapi jangan percaya deh; kumohon.
Aku ngobrol santai denganmu dengan nada basa-basi. Aku katakan segalanya yang sebenarnya tidak ada artinya, yang sama sekali lain dari pada seruan hatiku.
Jadi, kalau aku sedang berceloteh, jangan terkecoh oleh apa yang aku ucapkan.
Tolong dengarkan dengan seksama dan berusahalah mendengar apa yang tidak kuucapkan; apa yang ingin kuucapkan; apa, demi keselamatan, yang perlu kuucapkan tetapi tidak bisa. Aku tidak suka bersembunyi. Sejujurnya lho. Aku tidak suka permainan basa-basi yang kumainkan ini.
Sebenarnya aku ingin tulus, spontan, dan menjadi diriku sendiri; tetapi kamu harus menolong aku. Kamu harus menolong aku dengan mengulurkan tanganmu, sekalipun kelihatannya aku tidak menginginkannya atau membutuhkannya.
Setiap kali kamu bersikap baik serta lembut dan memberikan dorongan, setiap kali kamu berusaha mengerti karena kamu sungguh peduli, hatiku bersayap. Sayap kecil sih. Sayap lemah sih. Tetapi pokoknya bersayap. Dengan kepekaanmu dan simpatimu serta daya pengertianmu, aku bisa menanggung semuanya. Kamu bisa menghembuskan nafas kehidupan ke dalam diriku. Pasti tidak mudah bagimu. Keyakinan akan ketidakberhargaan yang sudah lama pasti membangun dinding yang kuat. Tetapi kasih itu lebih buat dari pada dinding yang kuat, dan di sanalah letaknya pengharapanku. Tolong usahakan untuk merobohkan dinding itu, dan aku ini anak-anak.
Siapa sih aku, mungkin kamu bertanya-tanya. Karena aku adalah setiap pria, setiap wanita, setiap anak-anak...setiap manusia yang kamu temui.


dikutip dari The 7 Habits of highly effective teens - Sean Covey hal 244-245

Saturday, July 20, 2013

Bharatayuda

Berikut adalah plot favorit saya dari cerita pewayangan, yaitu saat-saat menjelang perang Bharatayuda akan dimulai, ini adalah pembicaraan (atau lebih tepatnya nasehat) yang sangat deep dan menenangkan dari Khrisna kepada Arjuna. 


"Kangmas Prabu. . . ." Arjuna berkata lirih. Tiba-tiba tampak wajahnya semakin memucat. "Aku tak sangggup," lanjutnya sambil tubuhnya terhuyung dan menyandarkan badan serta tangan menumpu pada dinding kereta. "Badanku lemas, Kangmas. Mulutku tiba-tiba kering, tangan gemetar. Pagi yang cerah ini tiba-tiba menjadi gelap dimataku." Arjuna berulang kali menarik napas panjang berusaha menenangkan diri.

Khrisnapun membalikkan badan. Ia sejenak mengaitkan tali kendali kuda, kemudian melangkah mendekati Arjuna sambil membimbinganya agar tidak jatuh terhuyung. "Ada apa, Dimas?" tanyanya.

"Tak ada gunanya aku ikut berperang, Kangmas. Ratusan ribu orang menyabung nyawa untuk sebuah tahta dan wilayah Kerajaan Hastinapura," keluh Arjuna. Ia duduk di lantai kereta perang itu. Sejenak, ia menarik napas, kemudian melanjutkan, "Betapa kejinya aku, Kangmas." Kalimatnya mulai terdengar bergetar. Air mata mengalir dari matanya. "Apalah arti tahta di Hastinapura, sementara aku sudah memiliki Istana Madukara dan Kangmas Prabu Yudhistira sudah memiliki Amarta? Apalah arti kebahagian bila aku harus membunuh banyak orang untuk mendapatkannya?" Nada suaranya semakin terdengar membuat iba. Linangan air mata tampak semakin deras.

Khrisna terdengar menarik napas panjang. Ia turun dari kereta, berdiri di tebing itu sambil melihat di kejauhan sana. Sepertinya, pertempuran hari pertama itu akan segera dimulai. "Bangunlah, Dimas. Sudah tidak ada waktu lagi untuk meratap. Sebentar lagi perang akan dimulai, kita harus ke bawah sana untuk bisa menyemangati para prajurit yang berperang."

"Bagaimana aku bisa membidikkan anak panah, sementara di sana ada Eyang Bhisma dan Guru Pandita Durna yang aku hormati!?" Arjuna memotong bicara Khrisna setengah berteriak. Tangisnya semakin menjadi. "Aku tidak tahu mana yang lebih baik saat perang ini usai, menang atau kalah? Keduanya sama-sama buruk bagiku, Kangmas. Aku ingin pulang, Kangmas. Aku ingin pulang. Biarkan aku pergi dari Kurusetra ini, Kangmas," ratap Arjuna.

Sejenak, Khrisna hanya diam. Ia tersenyum sambil mengawasi persiapan perang di bawah sana yang sepertinya akan segera berlangsung. "Tahukah Dimas bahwa apa yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan, bisa jadi tidak seperti kenyataannya? Kita tak pernah tahu pasti apa dan siapa diri kita sebelum kita dilahirkan, kita hanya tahu sejak kita lahir hingga mati," jelas Khrisna. Ia menghela napas sejenak. "Setelah mati, kita juga tak tahu pasti apa dan siapa kita. Bisa jadi semua ini tak ada. Tapi, yang aku tahu pasti, Dimas, pastilah semua ini dicipta dan terjadi tidak sia-sia."

Terlihat Arjuna duduk bersila, mengambil sikap bersedekap. Ia menunduk dan matanya terpejam, sementara air matanya masih mengalir.

"Itu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar di balik ini semua. Kita bangsa manusia, juga bangsa lainnya, bangsa jin, bangsa kera, bangsa raksasa, bangsa ular, bahkan bangsa dewa sekalipun, pernah dulunya tidak ada, kemudian diciptakan jiwa menjadi ada. Suatu ketika diberi kesempatan menempati raga hidup di dunia wayang saat kelahiran, kemudian suatu saat pasti mati. Jiwa itu meninggalkan raga, yang aku juga tak tahu pasti ke mana saat kematian raga. Tapi, itu bukanlah kematian jiwa. Jiwa masih menjalani kehidupan sampai kemudian ia benar-benar ditiadakan," jelas Khrisna.

Arjuna tampak mulai mengatur mapas panjang untuk menguasai diri dan berusaha mengendalikan galau di hatinya.

"Bisa jadi raga tak ubahnya sebuah pakaian bagi jiwa kita, pagi dari dipakai, sore hari ditanggalkan," lajut Khrisna. "Layaknya sebuah pakaian, maka raga suatu saat bisa usang, rapuh, dan sangat mudah hancur. Raga bisa hangus oleh api, raga bisa tergores tajamnya keris, tertembus tajamnya anak panah. Tapi, jiwa, senjata tak akan pernah bisa melukai jiwa, api tak sanggup membakar jiwa, air tak bisa membasahinya, juga udara yang tak mungkin membuat kering jiwa. Jiwa tidak bisa dihancurkan oleh kita. Oleh karena itu, bangunlah, Dimas. Jangan pernah engkau meratap. Hadapilah mereka. Berjuanglah! Bila orang terhormat itu mati, bagaimanapun, maka yang mati adalah raga. Jiwa mereka tetap dikenang dan dihormati."

Terlihat Arjuna mulai bisa mengendalikan dirinya. Masih dalam posisi duduk bersila dan bersedekap. Napasnya kini lebih teratur. Tak terlihat lagi air mata mengalir. Sejenak, Khrisna dia menghentikan bicaranya. Suasana hening, yang terdengar adalah gemuruh angin kencang di bawah terik matahari pagi itu.


"Dari semua jiwa yang mengisi raga, sebagian dari mereka melihat kehidupan secara keliru, Dimas, sehingga mereka melakukan hal-hal yang kurang terpuji, merampas hal orang lain, mencuri, membunuh, mengabaikan kewajiban, tidak menghargai kehidupan, dan merusak alam. Sehingga, kekeliruan itu harus diseimbangkan, Dimas, agar kehidupan manusia ini selalu menjadi lebih baik. Hukum alam punya cara tersendiri untuk menyeimbangkan yang terkadang kita tidak tahu mengapa dan bagaimana. Seperti banjir menerjang pemukiman orang-orang tidak berdosa, gempa meruntuhkan peradaban."

Sejenak, Khrisna menghela napas, kemudian melanjutkan. "juga hukum manusia. Walaupun setiap saat harus selalu diperbaiki, namun harus selalu dilakukan tindakan nyata kepada setiap yang melanggar dan tidak menghargainya. Hukum harus ditegakkan agar tatanan kehidupan terjaga, agar setiap manusia setiap bangsa bisa menghargai keberadaan diri mereka sendiri. Pelaku hukum manusia harus juga tegas terhadap pencuri, terhadap pembunuh, kepada setiap penebar angkara murka, dan perampas hak orang lain. Apa pun alasannya, mereka harus menjalani hukuman mereka. Bila seorang pelanggar adalah rakyat kebanyakan, tentulah mudah untuk menangkap dan menghukumnya. Tapi, bila penebar angkara juga memimpin sebuah negeri, maka harus ada kekuatan penyeimbang demi sebuah wibawa hukum dan tatanan. Sehingga, suatu saat, harus ada perang ketika tak bisa lagi cara beradab dilakukan agar sang pelanggar dihukum. Terpenting, agar generasi nanti, anak cucu kita, bisa belajar sesuatu dari apa yang terjadi sekarang ini, Dimas. Aku yakin, ribuan tahun setelah ini, orang akan mencoba belajar, menelaah, dan bercermin pada setiap keputusan kita hari ini. Oleh karena itu, berjuanglah, Dimas. Bukan masalah apakah kita akan menang atau kalah, karena semua itu akan tetap berguna ketika kita tak pernah berhenti berjuang."

Terlihat wajah Arjuna mulai segar dar pucat. Ia mencoba menenangkan dirinya sabil mendengar apa yang dikatakan Khrisna dengan seksama.

Sambil tetap memandang jauh ke bawah sana, Khrisna melanjutkan, "Saat ini, kita berjuang melawan raga dari jiwa yang melanggar hukum tatanan, Dimas. Raga mereka yang akan dihancurkan, tapi itu bukan berarti kita akan membunuh jiwa. Karena jiwa tidak lahir saat kelahiran bersama raga, jiwa juga tidak mati ketika kita membunuh raga. Keberadaan dan ketiadaan jiwa hanya bisa terjadi oleh Sang Sumber Kebenaran. Oleh karena itu, bangunlah, Dimas, berjuanglah atas nama-Nya!"

Arjuna membuka matanya. Tampak sorot mata yang masih sayu, tapi mulai terlihat semangat perjuangan. Wajahnya sudah kembali cerah. Ia berdiri dan berkata lirih, "Menurut Panjenengan, apa arti kehidupan kita ini, Kangmas?"

Khrisna menoleh ke arah Arjuna dan berkata, "Kita makhluk yang hidup dalam semesta ini adalah bagian dari sebuah kemungkinan, Dimas. Sesuatu yang mungkin ada. Sesuatu yang semula tida ada, kemudian dicipta menjadi ada, hingga suatu saat menjadi kembali tak ada. Baik ada sebagai jiwa, entah kapan kita masing-masing dicipta sebelum kelahiran kita, atau keberadaan raga kita saat lahir di dunia wayang ini, Dimas."


Sejenak, Khrisna menghela napas dan kembali menoleh ke arah bawah sana. Sepertinya, perang segera akan dimulai. "Di balik sesuatu yang mustahil ada, keberadaan sesuatu yang wajib ada, karena merupakan sebuah keniscayaan atas keberadaan yang mungkin ada. Karena sesuatu yang mungkin ada, butuh sesuatu yang membuatnya ada. Karena, bila demikian, maka masihlah itu dianggap sebagai yang mungkin ada. Tidak pernah mengalami sebuah ketiadaan dulu ataupun di masa datang. Di sanalah kita bisa meraba keberadaan Sang Pencipta, Dimas. Dia yang pasti tak pernah berawal dan tak pernah berakhir. Dia yang keberadaannya pasti hanya satu karena sifatnya yang wajib ada. Dia yang memustahilkan sesuatu yang memang mustahil ada, dan Dia yang menggenggam keberadaan sesuatu yang mungkin ada, di antaranya kita manusia."

Matahari sudah mulai meninggi ketika terompet perang itu ditiup dan sayup-sayup menggema di seluruh Padang Kurusetra, terdengar oleh semua yang ada di bawah sana yang tampak tegang mengawai perang.

Sayup-sayup, terdengar teriakan, "Serang . . .!" Teriakan yang bersambut, diikuti oleh teriakan serupa dari ratusan orang yang memimpin kelompok-kelompok prajurit. Puluhan ribu prajurit itu akhirnya berhambur beradu. Khrisna dan Arjuna tampak memperhatikan saat-saat pertama perang pecah dan melihat sendiri kengerian ketika dua kubu saling berperang di bawah sana!

Khrisna menoleh ke arah Arjuna dan kembali berkata, "Tak ada yang harus kita lakukan sebagai bagian dari sesuatu yang mungkin ada, kecuali kewajiban kita untuk selalu mengabdikan diri kita kepada Sang Pencipta. Apa pun yang kita lakukan selama hal itu adalah sebuah perjuangan, maka pastilah tak pernah sia-sia ketika kita mempersembahkan jiwa dan raga serta hidup dan mati kita untuk Sang Pencipta dan alam semesta"


Search This please....